Dalam kegiatan yang digelar secara hybrid, daring dan luring itu, Luthfi menyampaikan materi mengenai teknik negosiasi, komunikasi, dan mediasi. Acara tersebut diikuti ratusan perwira TNI AU dari berbagai wilayah, mulai dari Sabang hingga Merauke.
Luthfi mengatakan, kemampuan komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam membangun pengaruh dan kepemimpinan. “Semakin baik komunikasi seseorang, semakin besar peluangnya untuk memengaruhi,” ujarnya.
Baca juga:
Jajaran Redaksi Media Akurat News TV Apresiasi Kinerja Kapolres Rohil, Situasi di Panipahan Kembali Kondusif
Ia juga menekankan pentingnya ketepatan dan kecermatan dalam pengambilan keputusan. Menurut dia, perwira TNI merupakan “the man behind the gun” yang tidak hanya mengandalkan kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan teknologi, tetapi juga kebijaksanaan.
Dalam paparannya, Luthfi mengingatkan agar para perwira mampu mengelola berbagai bentuk konflik, mulai dari konflik kepentingan, struktural, hingga konflik nilai. Ia mengutip pemikiran Christopher W. Moore yang diperolehnya saat menempuh pendidikan di Centre for Dispute Resolution, Boulder, Colorado, Amerika Serikat, pada 1995.
“Konflik nilai adalah yang paling berat karena berkaitan dengan keyakinan, adat, ideologi, atau agama. Karena itu, penting untuk memilah konflik secara cermat dengan memahami data dan menghindari bias akibat informasi yang tidak akurat,” kata Luthfi.
Lainnya:
Peringati Hari Bumi, Kapolres Rohil Gelar Kegiatan Tanam Pohon di Panipahan
Ia juga mendorong para perwira meneladani figur tentara intelektual, seperti Soedirman, Abdul Haris Nasution, Tahi Bonar Simatupang, Soemitro, Saidiman Suryohadiprojo, serta Try Sutrisno.
Menurut Luthfi, di tengah percepatan disrupsi hukum dan munculnya fenomena “The Rule of Algorithm”, perwira TNI tidak boleh stagnan. Mereka dituntut terus berkembang serta berkontribusi dalam mewujudkan keadilan sosial.
Luthfi diketahui memiliki pengalaman internasional di bidang resolusi sengketa. Ia pernah berkolaborasi dengan Alisa J. Steren dari National Institute for Dispute Resolution (NIDR), Washington DC. Selain itu, ia juga pernah menjadi dosen di University of Gakushuin, Tokyo, untuk mata kuliah Comparative Dispute Resolution dan Wakai, serta menjadi asisten Prof. Yoshiro Kusano, mantan hakim tinggi Pengadilan Tinggi Hiroshima.
(MEGY)
BILA ANDA MEMILIKI DATA/BERITA UNTUK DIPUBLIKASIKAN :
HUBUNGI HP/WA : 0812 7995 2362